SOLID GOLD BERJANGKA  –  Tax Amnesty Terhadap Rupiah

SOLID GOLD BERJANGKA PALEMBANG  –  Penerapan pengampunan pajak atau disebut tax amnesty dan berkurangnya tekanan karena adanya sentimen terhadap Brexit dengan menguatkan kurs rupiah.

Nilai tukar rupiah mencapai 13.100 setelah DPR mengesahkan RUU Pengampunan Pajak pada 28 Juni. Bank Indonesia memastikan tetap berada di pasar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, stabilitas kurs harus dijaga di level tertentu agar kompetitif dalam memacu ekspor. “Rupiah juga perlu kurs yang stabil untuk kegiatan impor,”.

Perekonomian Indonesia masih sangat bergantung pada sektro impor. Penguatan kurs yang terlalu tajam akan berdampak negatif pada keseimbanga neraca perdagangan.

Mirza menjelaskan “Kurs yang cukup kompetitif bisa mengundang capital inflow untuk terus masuk. Kalau kurs terlalu kuat, akan membuat inflow malah akan terhenti,”.

Dia mengakui, dengan masuknya dana dari luar negeri akan meningkatkan cadangan devisa dalam negeri. Hingga akhir Mei, posisi cadangan devisa telah mencapai USD 103,6 miliar.

Jumlah itu lebih rendah jika dibandingkan dengan akhir April yang mencapai USD 107,7 miliar. Cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai 7,9 bulan impor dan pembayaran hutang luar negeri pemerintah.

Jumlah itu ternyata telah melebihi standar cadangan devisa yang berlaku secara internasional, selama 3 bulan impor.

“Inflow di pasar keuangan untuk menyambut tax amnesty itu bagus. News mengenai inflasi juga cukup baik. Rupiah menguat dan inflow-nya besar,” tuturnya.

Konfidensi pelaku pasar keuangan bertambah dengan rilis angka inflasi pada Juni sebesar 0,66 persen yang menjadi inflasi puasa terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Dampak berkelanjutan dari capital inflow diprediksi terasa setelah tax amnesty diberlakukan, yaitu pada Juli 2016 hingga Maret 2017. Kondisi capital inflow yang searah dengan penguatan nilai tukar rupiah juga terus dicermati BI.

“Kita ini masih negara yang ekspor impornya defisit. Berbeda halnya dengan negara Filipina, Singapura, Malaysia, dan Thailand yang kegiatan ekspor dan impor barang dan jasanya mengalami surplus,”  – SOLIDGOLD BERJANGKA

sumber : radarcirebon.com