SOLID GOLD BERJANGKA  –  Dollar Semakin Tak Terkejar Akhir Tahun

SOLID GOLD BERJANGKA PALEMBANG    –    Jumat (12/2) Menguatnya sejumlah data ekonomi Amerika Serikat dan proyeksi pengerekan suku bunga Federal Reserve dapat menjadi basis penguatan USD menuju level 102,5 sampai akhir tahun. Alhasil sejumlah mata uang kian tertekan. Kemarin indeks USD menurun 0,31% atau sebesar 0,31 poin menuju 101,19. Menunjukkan dolar sudah naik 2,6% sepanjang tahun berjalan.

Sementara indeks kepercayaan konsumen periode Oktober 2016 juga meningkat ke 107,1 dari bulan sebelumnya 100,8. Sebelumnya konsensus memprediksi indeks hanya akan naik menjadi 101,3. Data tenaga kerja versi swasta atau ADP periode Oktober–November juga mengalami peningkatan menuju 216.000 dari sebelumnya 119.000 dan perkiraan konsensus sebesar 161.000.

Keperkasaan USD turut menekan kinerja rupiah, meskipun cenderung terbatas. Putu memprediksi sampai akhir 2016, harga euro akan terkoreksi ke 1,04 per USD, sedangkan rupiah berpotensi menuju Rp 13.700 – Rp 13.800 per USD. Menjelang malam euro terkoreksi 0,34% menuju 1,062 per USD. Sepanjang tahun berjalan terjadi peningkatan 2,17%. Rupiah ditutup melemah tipis 0,07% atau sebesar 10 poin ke Rp 13.565 per USD setelah diperdagangkan pada kisaran  Rp 13.543 – Rp 13.609 per USD. Adapun kurs tengah BI dipatok Rp13.582.

Research Analyst FXTM Lukman Otunuga, mengatakan nuansa kegelisahan sangat terasa di pasar negara berkembang menjelang rilis data ketenagakerjaan NFP AS pada Jumat. Pasalnya, data NFP ini dapat memastikan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Desember.  USD terus mengalami penguatan, sehingga mata uang pasar berkembang rentan mengalami penurunan signifikan. Misalnya seperti yang terjadi pada USD-IDR.

Senior FX Strategist ABN Amro Bank Roy Teo, mengatakan The Fed diperkirakan bakal mengerek suku bunga acuan dari level 0,25%–0,75% sebanyak enam kali sampai dua tahun mendatang. Sentimen ini akan menekan sejumlah mata uang dunia, terutama yen. Yen naik 0,12 poin atau sebesar 0,1% menuju ke 114,3 per USD. Ini menunjukkan yen sudah terkoreksi 5,01% sepanjang tahun berjalan ytd.

Amro Bank memprediksi jika sampai akhir 2017 pelemahan yen sudah terlampau rendah, maka BoJ akan melakukan intervensi untuk menopang terjadinya penguatan. Titik terendah JPY diperkirakan berada pada kuartal IV/2017 – kuartal I/2018, yakni di posisi 115 per USD. Adapun sampai akhir 2016, rerata harga yen pada kuartal terakhir mulai merosot menuju 109 per USD.  –   SOLID GOLD BERJANGKA