SOLID GOLD BERJANGKA  –  Dampak Brexit Terhadap Negara Asean

SOLID GOLD BERJANGKA PALEMBANG   –   Selasa (02/08) keputusan United Kingdom keluar dari UE menyebabkan ketidakpastian ekonomi di Asia. Demikian studi terbaru JCER. Seperti diberitakan Nikkei, kemarin, Lembaga tersebut membuat perkiraan jangka pendek terhadap 5 negara Asia: China, Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Filipina.

Meskipun, Brexit memiliki dampak kecil terhadap harga saham dan nilai tukar 5 negara tersebut. Namun, itu diperkirakan dapat menekan pertumbuhan kelima negara lewat perdagangan dan pasar keuangan. Tahun ini, ekonomi China diramalkan bakal melanjutkan tren perlambatan yang sudah tercetak sejak 2015.

Sedangkan, pertumbuhan ekonomi 4 negara Asean diperkirakan tak jauh beda dengan tahun sebelumnya. Malaysia yang diprediksi bakal yang paling parah terkena dampak brexit dan perlambatan ekonomi China. Ekonomi di China diprediksi akan menyentuh 6,5%, turun dari tahun sebelumnya 6,9%. Ini merupakan terburuk sejak tahun 1990.

Pertumbuhan ekonomi China di semester I tahun ini lebih banyak disokong oleh investasi realestat. Pada tahun 2017, pertumbuhan ekonomi China diproyeksi bakal melambat ke level 6%. Pada Juni lalu, investor sektor swasta China kehilangan momentum. Sehingga pertumbuhan tahunan nyaris menyentuh nol.

Untungnya, investasi perusahaan pelat merah China masih meningkat. Ini membuat pertumbuhan investasi secara keseluruhan terjaga dengan baik. Sementara, investasi di sektor realestat dan harga perumahan di kota besar menguat. Kemudian, utang korporasi membengkak. Terutama perusahaan baja, perkapalan, dan properti. Sejak krisis finansial global tahun 2008, China banyak mengakumulasi utang korporasi. Per kuartal akhir tahun 2015, rasio utang korporasi China mencapai 170 persen dari PDB. Ini di atas level Jepang selama era gelembung ekonomi.

Ke depan, China bakal menghadapi penyusutan investasi, peningkatan potensi gagal bayar, dan depresiasi yuan. Pertumbuhan ekonomi rata-rata empat negara Asean tahun ini diperkirakan mencapai 4,6%. Tak beda jauh dengan tahun lalu. Pelemahan ekonomi diperkirakan bakal terjadi di Malaysia dan Thailand. Namun, itu bakal terkompensasi dengan pertumbuhan ekonomi di Filipina dan Indonesia yang mengandalkan besarnya konsumsi masyarakat. Pertumbuhan ekonomi Malaysia diprediksi hanya sebesar 4,1%. Turun ketimbang tahun lalu 5 persen.

Jika benar, maka itu bakal menjadi pertumbuhan ekonomi terendah Malaysia sejak 2009. Kala itu, pertumbuhan ekonomi Negeri Jiran tersebut minus 1,5%. Malaysia mengandalkan ekspor, sekitar 7% dari GDP. Di antara keempat negara Asean, ekspor Malaysia ke United Kingdom dan negara Uni Eropa lainnya lebih tinggi.

Selain itu, Malaysia juga menerima kredit tertinggi dan investasi terbesar dari Inggris. Inilah yang membuat Malaysia paling parah terkena dampak Brexit.Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia, tahun ini, diprediksi 4,9%. Naik 0,1% ketimbang 2015. Terakhir kali ekonomi Indonesia tumbuh di bawah 5% yaitu pada tahun 2008, saat kolapsnya Lehman Brothers. Sementara, Filipina diperkirakan mencapai 6,4%, naik 0,5% ketimbang tahun lalu. Ini berkat meningkatkan permintaan domestik  –  SOLIDGOLD BERJANGKA

sumber : merdeka.com